Posted on

Reflective Challenge Championship 2030


“Are you readyyyyyyyyyyyyyyy?” Suara seorang komentator sebuah pertandingan bergema lewat microphone yang kecil namun powerful.
“Yeaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhh!” Suara riuh penonton pun berefek yang sama walaupun tanpa alat bantu.
“Kita lihat saudara-saudara, siapakah yang akan memenangkan pertandingan malam ini? Apakah Richard, Deadra ataukah Nanda?”
Ketiga nama itu sedang berdiri di tiga podium yang masing-masing hanya berjarak 1 meter saja. Podium ketiganya berbentuk seperti silinder dengan ketinggian 12 meter! Lebar silinder itu hanya cukup untuk ditempati satu kursi bersandar (sandaran itu tidak ada gunanya karena setiap peserta duduk maju penuh antusiasme menghadapi wide screen yang cekung mengitari mereka) dan satu blok yang menjadi tempat remote control dengan banyak tombol  berwarna-warni. Banyak sekali penonton jauh dibawah mereka yang sedang rebahan di reclining seat sambil berteriak-teriak memberi dukungan kepada jagoannya diatas sana.
“Let the gameeeeeeeeeeee begiiiiiiiiiiiiiiin!!!”
Richard, Deadra dan Nanda segera mengambil remote control mereka masing-masing dan memencet tombol start ditengah teriakan riuh par penonton. Ketiak tombol start tertekan, muncullah tiga avatar yang menggambarkan virtual characters mereka di screen.
Richard: Cowok kurus sporty berbandana merah dengan basketball yang didribblenya tanpa henti sementara matanya tidak kesana. Kedua bolamatanya sedang sibuk mengitari ruang tempat berlatihnya untuk mencari mangsa.
Deadra: Cewek 30an tampak berbaju wanita karir duduk dengan kaki menyilang yang sangat sexy. Di depannya ada notebook yang terbuka dan retractable mouse yang panjang sekali sampai kabelnya berjuntai di lantai. Kacamatanya diturunkan sampai di hidung untuk member jalan kedua bola matanya mengitari ruangan mencari mangsa.
Nanda: Avatarnya adalah seorang ibu muda di sebuah dapur. Dia sedang memotong wortel dengan sangat cepat namun matanya tidak ke arah sayuran itu. Kedua matanya mengitari ruangan dapurnya mencari mangsa.
Suasana di stadium itu perlahan-lahan surut sepi. Teriakan penonton yang tadi riuh surut sendiri secara teratur. Sekarang semuanya diam. Semuanya memandang ke ketiga avatar di atas mereka dan mencoba mengikuti arah ketiga pasang bola mata itu. Mereka bergerak ke kiri, ke kanan, lalu ke atas dan tiba-tiba ada sesuatu di bawah masing-masing avatar itu!!!
Avatar Richard melempar bolanya, Mouse Deadra melayang ke sasaran. Dan pisau Nanda terbang ke bawah mencoba mengenai objek yang bergerak cepat tidak mau kalahnya. Semuanya gagal mengenai objek itu.
Ada pantulan di sebelah kiri masing-masing avatar. Dan di sebelah kiri pulalah bola basket, mouse dan pisau dengan cepat diarahkan. Gagal lagi. Objek itu ke atas. Pisau Nanda mengenainya. Namanya segera bergaung di stadium itu.
“Nanda mendapatkan 70 poin!” Kalimat itu hampir tidak terdengar karena hebohnya pendukung Nanda yang melihat score digital Nanda berubah ke angka 70.
“Apa itu di belakang mereka?!” Teriakan komentator itu diikuti oleh suara berdesing pisau Nanda ke arah belakangnya dan menancap di dinding kayu. Gagal! Ditariknya cepat-cepat untuk diayunkanya lagi ke arah yang lain demi score kedua. Ternyata bola basket Richardlah yang berhasil memukul objek itu.
“30 poin!!!”
“Yeeeeeeeeeees!!!” Richad bersemangat! Cuma mouse Deadra yang belum berhasil. Padahal kabelnya sudah kemana-mana bahkan hampir mengikat tubuhnya sendiri. Dengan cepat Deadra berubah penampilan. Sekarang dia ada di kamar tidurnya dan dia adalah wanita berbaju super ketat dan berambut panjang sebahu namun ternyata rambutnya itu memanjang dengan kecepatan penuh ke samping kanannya karena ada gerakan disana. Rambut itu sangat efektif! Kibasannya menghasilkan poin 45!
“Akhirnyaaaaaaaaaa score untuk Deadra!!!” Teriak komentator diantara gemuruhnya penonton. Tidak ada yang menjamin kepastian teriakan penonton itu gara-gara score Deadra atau gara-gara pakaian minim dan ketatnya!
Semua pasti penasaran tentang berapa si komentator membayar dokter untuk tenggorokannya yang bekerja keras malam itu berteriak-teriak selama kurang lebih setengah jam penuh tanpa berhenti! Akhirnya pertandingan selesai setelah bola Richard kempes, rambut Deadra rontok beberapa dan pisau Nanda sudah sangat tumpul. Penonton tetap bersemangat melihat lokasi avatar jagoan mereka yang sangat kacau dan bekas-bekas masing-masing serangan dimana-mana. Tempat berlatih Richard sudah sangat parah. Kamar Deadra berantakan seperti lokasi pemerkosaan dan dapur Nanda benar-benar butuh untuk direnovasi!
“Saatnya menghitung score. Are you readyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy?”
Terbakar lagilah semangat para penonton untuk berteriak-teriak menunggu perhitungan score.
Avatar di wide screen dikuasai oleh gamar Richard. Si komentator mulai menghitung nilai objek-objek yang dihantam olehnya.
“Tiga puluh satu kepala sudah dihabiskan oleh Richard. Berapakah nilai kepala itu? Mari kita lihat bersama.”
Muncullah kepala si Draco dengan tulisan “IDEAS” di jidatnya yang berubah menjadi score 89. Lalu kepala Dewi degan tulisan “ACTIONS” yang berubah menjadi nilai 90. Beberapa kepala berganti-ganti sampai Richard mendapatkan score 745.
Lalu avatar Deadra mengusai wide screen walaupun sebenarnya teriakan pendukung Deandralah yang lebih merajalela. Beberapa kepala dengan tulisan “ARROGANCE—27, GOOD DEEDS—59, OPENESS, 73” dan beberapa lainnya membulatkan score Deadra menjadi 800.
Nanda adalah yang terakhir. Komentator sempat memanas-manasi para penonton tentang kemungkinan Nanda mendapatkan kepala emas.
“Apakah Nanda berhasil menghantam tiga kepala emas yang tidak ada di daftar Richard dan Deadra?”
Penonton pun berteriak menggila.
“SELFISHNESS! 87!”
“Yeaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!!!!!”
Kepala biasa muncul setelah itu.
“Ini adalah kepala terakhir Nanda. Masih ada dua kepala emas dan salah satunya dilewatkan oleh ketiga Grand Champion kita di pertandingan kali ini. Kepala apakah ituuuuu?”
“UNDERSTANDING! 99!”
Dan,..masih ada satu kepala lagi yang dipunyai Deadra. Apakah itu kepala emas yang terakhir, atau hanya kepala biasa?”
“Emas! Emas! Emas! Emas!” Nanda mendapat dukungan penuh dari para penonton.
“Daaaaaaaaaaaan,..inilah kepala yang berhasil dipukul Nanda,…..” Semua penonton diam. Kepala ini menentukan score Nanda yang sekarang hanya 750.
“FORGIVENEEEEEEEEEEES!!!!!”
“YEAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH!!!!!!!!!”
Score board Nanda berubah menjadi 850 dan dia berhasil membawa pulang piala kejuaraan “REFLECTIVE CHALLENGE CHAMPIONSHIP 2030!”

About thef1rstmanonjupiter

I'm a true ARIES--If you know what I mean. If you don't, google it:)

2 responses to “Reflective Challenge Championship 2030

  1. Daffodil

    piala doank? teganya, teganya, teganya ….

  2. Je

    Kan ini baru babak pertama :).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s