Posted on

Bagaimana kita bisa tahu usia harapan hidup sebuah sosis?


Sebagai seorang anak kos yang menghayati perannya, saya sering sekali kelaparan kalau malam. Saya biasanya malas makan, apalagi kos saya di lantai lima tanpa alat modern yang bisa menghantarkan saya turun langsung ke lantai satu dan menuju warung. Masalah lainnya adalah, saya bukan seorang penimbun sembako. Walhasil, hubungan saya dan kelaparan terjain sangat baik. Pernah suatu saat saya sakit dan harus dirawat di RS. Ketika itu, untuk turun ke lantai empat pun merupakan salah satu hal yang menyangkut hidup dan mati. Oh,…(pakai “oh” biar kesannya tragis dan dramatis). Untuk menyikapi permasalahan itu, akhirnya saya mengalah dan melanggar prinsip pribadi saya sendiri untuk tidak menjadi penimbun sembako. Saya membeli roti tawar dan sosis instan (maksudnya, saya hanya membeli sosisnya saja, bukan membeli sapi dan terus saya sembelih lalu saya olah menjadi gulungan-gulungan lonjong tersebut).
Waktu berlalu dengan sombongnya tanpa memperhatikan saya. (Oh,…lagi).Perubahan-perubahan pun terjadi. Roti tawar saya tidak lagi putih suci seperti dulu. Saat itu ada bintik-bintik jahat disana. Akhirnya dengan sisa akal sadar, saya membuang roti itu. Saya memutuskan tidak melakukan upacara khusus walaupun berat sekali buat saya ketika itu. Setelah peristiwa pembuangan tersebut, hidup saya berjalan seperti biasanya. Bangun, rokok, jalan ke kantor, training, jual tampang dan body, berbohong sana-sini, memeberi janji-janji palsu bak pilkada dan lain sebagainya berjalan normal seperti biasanya…sampai malam saya memposting tulisan ini.
Saya terserang rasa lapar luar biasa di depan laptop kreditan saya. Apa yang harus saya lakukan? Bukannya semua makhluk hidup di dunia ini mempunyai insting untuk bertahan hidup? Sebagai bagian dari masyarakat dunia, saya mencoba mengais-ngais makanan. Saya cek SPBU saya dan ternyata,….sebuah bentukan lonjong tersenyum kepada saya. Betapa damainya senyuman itu. Dan senyuman itu merubah hidup saya selamanya…
Saya elus-elus tongkat ajaib dengan sarung plastik bergambar sapi di luarnya. Inilah jawaban dari sebuah pencariann saya. Sosis yang saya beli sebulan yang lalu adalah sosis penyelamat saya.
Apaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa? Tiba-tiba saya tersadarkan dengan kehiperbolaan saya memuji-muji sosis itu. Sebulan yang laluuuuuuuuuuuuuu? (Semoga Tuhan tidak keberatan karena saya mengetik huruf vokal berulang-ulang).
Apa yang sudah terjadi pada sosis ini? Apakah sosis ini baik-baik saja? Dan apakah saya akan baik-baik saja bila menyatu dengan sosis ini? Saya pandangi sosis itu dengan tajam. Apakah sosis itu akan bengkok? (Maaf,…saya terobsesi dengan Dedy Corbuzier).
Ternyata tidak!!! Sosis itu tetap tegak tersenyum memanggil-manggil suara di perut saya.
“Suaraaaaaaaaaaaaaaaa….Suaraaaaaaaaaaaaaaa…” Katanya.
Akhirnya tibalah saya di saat-saat terpenting salam hidup saya. Saya harus menentukan apakah saya akan memakan sosis itu. Sebuah keputusan yang sangat berat. Wajah saya menjadi serius. Urat-urat di kepala menegang, peluh pun berjatuhan seperti bocornya AC di sebuah ruangan. Sayup-sayup terdengar bunyi drum yang semakin membesar dan memekakkan telinga. Hanya ada satu cara untuk menghentikan bunyi drum itu. Saya menutup mata dan pelan-pelan mendekatkan sosis itu ke mulut saya dan “Hap,…lalu ditangkap” Seperti nyamuk oleh cicak di dinding. Saya mengunyah gaya Rusia dan akhirnya selesailah tugas saya.
Suara drum hilang bersamaan dengan suara perut saya. Sebagai gantinya adalah suara degup jantung saya. Apa yang akan terjadi setelah ini? Reaksi kimia berantai apakah yang akan muncul di dalam tubuh saya? Apakah saya akan…..Aaaah,…saya tidak berani menyebutkan kata “ITU”. Buat saya kata itu terlalu tragis. Kata yang penuh perpisahan. Tapi saya merasa harus jujur terhadap diri saya sendiri. Apakah saya akan,…..kentut?
Ternyata tidak, saudara-saudara. Hal itu tidak pentingbuat saya. Saat itu yang penting adalah berbagai macam perasaan yang muncul di diri saya. pertama kali muncul was-was lalu di posisi kedua muncul rasa bersalah. Disusul oleh rasa marah kepada diri sendiri dan selanjutnya melesat cepat adalah rasa kenyang dan dilewati oleh rasa syukur dan memimpin terus pemirsa dan akhirnya rasa syurlah yang pertama kali menyentuh garis finis pemikiran saya.
Setelah semuanya selesai, pemikiran saya mengusik saya lagi. Membuat saya tidak nyaman dan gelisah karena suatu pertanyaan yang dari tadi muncul dan selalu mengganggu saya selama proses terminasi sosis tersebut. Pertanyaan itu adalah…yang saya jadikan judul postingan ini.
Buat anda yang pernah mengalami hal yang saya ceritakan di atas atau mungkin yang punya teman dengan keingintahuan yang sama atau mungkin menghabiskan kehidupannya meneliti sosis dan ingin berbagi pendapat dengan saya, saya tunggu partisipasinya. Tapi maaf, saya tidak bisa menjemput kedatangan anda ataupun mengantarkan kepulangan anda.
Terimakasih atas perhatiannya dan wassalamulaikum waroh matullahi wabarokatuh.
Aqimussolaaaaaaaaaaaaaaaaah….

About thef1rstmanonjupiter

I'm a true ARIES--If you know what I mean. If you don't, google it:)

2 responses to “Bagaimana kita bisa tahu usia harapan hidup sebuah sosis?

  1. Daffodil

    sang sosis pasti ngrasa terhormat banget ditulis dengan kata-kata seperti ini dan dirangkai dengan kata-kata seperti ‘kentut’, ‘ITU’ dan ‘aquimusollaaaaaahhhh’. :-))))

  2. Mariskova

    Now, I know how you spend your quality time…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s