The Club–part 4–END


Aku duduk di kursi itu dan menjadi pusat perhatian seluruh orang tidak jelas yang ada disana yang menuntutku menyebutkan satu nama untuk mereka buat sengsara??? Aku benar-benar tidak beruntung.

Mungkin marahku terkadang bisa meledakkan rumahku. Tapi tidak untuk membunuh! Dan sekarang apa yang harus aku lakukan? Apakah ada kemungkinan untukku hidup apabila aku menolak? Aku harus mencoba!

Ake membersihkan kerongkonganku. “Ehm…ehm…”

“Eeerrr,..I think I could love this gathering. So, I …will tell you… one name and… you guys will what?? Take care of…HER?”

Aku sengaja memilih mengindikasikan seorang wanita lah yang akan mereka bereskan. Dan aku mengatakan hal itu sembari memandang ke arah Sally.

Dia tersenyum. Aku salah perkiraan. Jujur aku berharap dia akan bereaksi negatif tentang jenis kelamin yang aku jadikan acuan.

“Interesting. It’s a (dia menyapu pandangan ke semua orang disana) SHE (dengan nada naik menggoda).” Dan mereka semua tertawa kecil.

“Ex? Girlfriend? Wife? Or,..mother?” Dan Sally seolah mengomando tawa bersama kearahku.

“Relax.” Katanya menyentuh pundak kananku. Aku tidak nyaman. “Kita sudah pernah melakukan semua itu, Alex. Dan,…sukses. Bahkan beberapa orang dihadapan kamu sekarang ini bisa berdiri dengan tegak setelah pertolongan kecil kami semua. Benar kan?”

Semuanya meng-iya-kan omongan Sally.

“Well? Bagaimana?”

Apakah tampangku sudah cukup jahat? Cukup licik? Aku harap sudah. Karena aku butuh expresi itu untuk mengatakan kalimat ini.

“Kalau…memang membuatku bisa berdiri,…mmm and …protected, why only one? Saya punya banyak.”

Apakah tawa yang aku dengar setelah kalimat itu simbol merendahkan atau memang ada yang lucu?

Aku memasang tampang sedikit bingung.

“Mmm…” Genit sekali cara Sally menatapku.

“Alex want more.” Dan intonasi itu…disaat lain aku mungkin sudah berada di sebuah posisi yang lebih jantan. Tapi saat ini aku bisa membayangkan Budha Gautama yang digoda bidadari-bidadari setan yang mengitarinya. Sally memutar. Aku bisa mencium parfum mahalnya. Lalu dia berhenti di depanku. Dia sedikit membungkuk. Wajahnya tepat di depan wajahku. Dia mengangkat jari telunjuknya sejajar dengan bibirku dan lalu berkata dengan sexynya…”ONE.”

Aku memiringkan kepala dan berkata sekenanya “It’s hard.”

“Then think.” Jawabnya sangat menggoda. Apakah itu tiketku untuk bebas?

“Be back later.” Lalu dia mencium pipiku. Sungguh,…saat itu aku tidak merasa aku adalah laki-laki. Siapa yang akan begitu kalau mereka terancam???

Dia berbalik membelangiku. Dan dia sangat dekat. Lalu suaranya yang lantang disambut tepuk tangan meriah. Dia mengatakan satu kata “Next!”

Aku sempat bingung karena hanya bisa mendengar tepuk tangan ramai tanpa bisa melihat apa yang terjadi di depanku. Sally benar-benar menghalangi penglihatanku. Yang terjadi berikutnya adalah Alisa mendekat. Dia meraih lenganku menuntunku bangkit dari kursi dan turun menuju ke kerumunan. Mereka tampak gelisah. Ternyata mereka ingin terplilih.

Aku membisikkan aku ingin ke toilet ke Alisa. Dia menunjukkan arahnya. Dan disana, tempat yang lebih tenang, aku membasuh muka dan mempunyai sedikit harapan hidup untuk keluar dari ruangan itu.

Aku melihat jam tanganku menunjuk jam tiga. Aku berhasil keluar dari tempat itu bersama yang lainnya. Tetapi dengan cara satu per satu seperti saat aku masuk. Sebelum aku meninggalkan ruangan, Sally mencium pipi kananku dan Alisa melakukannya yang di sebelah kiri.

“We’re watching you.” Ancam Sally menggoda. Atau tidak? Setelah berhasil menghirup udara malam waktu itu, aku merasa aku tidak akan menulis ke kolomku soal pengalamanku yang satu ini. Mau apa lagi? They’re watching me!