Posted on

Tidak Terima–Part 3


Dan aku memandang ke atas melihat perisaiku yang sudah ditarik bumi. Ketika para prajurit itu berlari kearahku, aku meloncat tinggi meraih perisaiku tepat di genggaman. Dan ketika kakiku menyentuh tanah, jari tangan kananku menyentuh satu kunci di perisauku yang membuatnya megeluarkan batang-batang besi tajam yang langsung tenggelam di beberapa mata dan kepala prajurit yang dekat denganku.

Dan merekalah senjataku berikutnya. Aku cuma harus menekan kunci satunya lagi di perisakku dan besi-besi itu tertarik meninggalkan tubuh sempoyongan di sekelilingku. Aku memberikan tendangan sekuat tenagaku dan badan-badan kekar itu tersungkur kebelakang menubruk beberapa prajurit di sekitar mereka. Dan mereka terjatuh. Hal itu membuat beberapa prajurit diam di tempat berdiri mereka.

Sekarang mereka tahu aku punya banyak sekali kejutan untuk mereka.

Aku berusaha keras untuk memikirkan langkahku selanjutnya. aku berputar pelan-pelan untuk tahu berapa sisa lawan yang masih berdiri. Masih ada sekitar lima belas yang bisa melawanku. dan ada satu saat dimana ku sadar pandanganku sedikit terhalang oleh darah merah yang turun ke mataku. Dan saat itulah aku tahu ada luka gores di suatu tempat di wajahku.

 

“Berjanjilah kau akan menemaniku di dunia ini sampai sebisamu.”

Kalimat itu membuka mataku yang berkaca.

“Bagaimana aku tidak bisa? Aku bisa.”

Dan dia mengangguk.

“Aku janji akan menerima luka ini sepanjang aku bisa mengelusnya.”

Aku mengangguk berkali-kali aku baru  tahu bisa mengangguk sebanyak itu.

“Aku membutuhkan belaian itu. Aku perlu.”

 

Seorang laki-laki harus tahu kapan harus menahan sakit. Dan itulah saat aku harus melakukannya. Aku bisa menunggu sampai hari gelap untuk pertempuran ini tetapi aku bukanlah orang seperti itu. Aku melemparkan perisaiku namun kali ini ke atas depanku sedikit di atas kepala prajurit-prajurit di depanku yang kali ini mencoba tidak menggubrisnya. Mereka justru menyerangku dan aku sudah siap dengan pedangku yang terhunus berimbah darah.

Aku mencoba menghadapi mereka satu persatu walaupun kekuatanku tidak akan bisa lagi menghabisi mereka hanya dengan satu kali ayunan pedang. Dan aku tahu aku sedang menghadapi prajurit terlatih yang tidak hanya ada di depan mataku tetapi juga di belakangnya. Satu prajurit berusaha menusukkan pedangnya. Pedangku mengarahkannya ke samping badanku. Benda tajam itu mengenai perut prajurit di belakangku. Dan tusukan di perut tidak akan membunuhnya. Tusukan itu akan membuatnya terjaga dalam sakit yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Dan aku hanya menendangnya kebelakang. Itu saja. Karena aku sibuk dengan yang lainnya.

Satu ujung pedang menatap wajahku dengan tiba-tiba. Lalu pedang itu berhenti. Mata si prajurit terbelalak. Ternyata karena perisaku yang terbang searah boomerang kembali ke kepalanya. Dan langsung dia terhuyung kearahku yang sempat menggeser badan kesamping. Pedang itu mengenai badan prajurit lain. Dan aku segera mencabut perisaku dengan tangan kiri.

Yang satu ini tidak bisa aku hindari. Aku terperangkap dengan duel pedang dengan salah satu prajuit yang berbaju perang berbeda. Diakah pemimpin gerombolan ini? Pedangnya cepat. Aku hampir kalah. Tanganku lelah. Tapi aku harus kuat demi Kalamita!

Duelku menjadi tontonan prajurit-prajurit yang masih berdiri di atas kaki mereka. Kalau aku menjadi pemimpin mereka, aku akan segera memecat mereka semua. Akulah musuh yang sudah menghabisi banyak sekali prajurit dan aku dibiarkan hidup untuk berduel dengan prajurit di depanku tanpa dikeroyok?

Ketika aku membuat pedangnya mengarah kesamping, aku menarik baju perangnya dan kubenturkan kepalanya dengan perisaiku. Aku tidak peduli lagi dengan bertarung indah. Ini adalah saat-saat aku bertahan hidup.

Dua pedang terhunus ke perisaiku. Tangan kananku memotong jari mereka!

Dan mereka terlalu dekat. Aku rentangkan tanganku dengan pedang di tangan kanan dan perisai di tangan kiri. Aku berputar membabi-buta. Aku butuh ruangan untuk bertarung. Dan aku berhasil. Setelah melakukan itu, akubisa melihat sekarang tinggal tujuh orang prajurit yang masih bisa melawanku. Dan mereka semua di depanku.

About thef1rstmanonjupiter

I'm a true ARIES--If you know what I mean. If you don't, google it:)

2 responses to “Tidak Terima–Part 3

  1. Kalamati? Sounds like kilimanjaro. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s