Posted on

Three interviews–two lessons of life


Minggu2 lalu adalah waktunya perekrutan karyawan baru di kantor gw. Dan itu artinya, bibir2 orang2 di dept gw bakal mengalami sedikit fluktuasi di ketebalan rate sampai sesi program itu berakhir. Di lain pihak, ini berarti anggaran untuk hiburan bisa terpotong karena mesti pada lucu2 deh orang2 itu. Ini ada beberapa hal yang mau gw ceritain:

Candidate pertama

Begitu gw masuk di ruangan tes tertulis, gw uda spot tiga orang yang dulu pernah gagal ikut tes sejenis and mutusin untuk ikutan lagi nih kayanya. Ada dua bapak2 dan satu cewek.

Si Bapak2 pertama

Gw inget banget tu ya kenapa itu Bapak gagal. Dia orangnya serius tapi seriusnya itu lebih ke diri sendiri daripada ngajak orang lain serius. Serem kan??? Dan dia coba lagi, berarti bener kan kalo dia serius. Hehehehe. Gara2 itu, gw taruh namanya di ruangan dimana bukan gw interviewenya. Itu prosedur standard interviewing kan? Biar objective aja. Siapa tau dia da improve dan interviewer lain liat itu. Gw tulis nama2 perserta plus di ruangan mana mereka harus ada buat interview di papan tulis. Uda dong beres. Pas break, gw senyum lah ke itu Bapak. Courtesy aja…seperlunya. Eeeee,…tu Bapak malah ngedeketin gw and bilang:

“Sir, can I be in your room?”

LOL LOL LOL LOL LOL

Little Je was sitting in fron t of his house and thinking of his future. What did he want to be? He wanted to be a gigolo.

Memang dulu gw pernah bercita2 jadi gigolo. Tapi kan duluuuuuuuuu. Ya ampun ini Bapak dan ya ampun ini gw yang tetep aj walaupun tau maksudnya si Bapak apa, mikiiiir ngeres ajaaa…

Dan pas gw jelasin kenapa si Bapak itu harus ada di ruangan yang berebeda, dia kekeeeeeeh:

“It’s ok for me to be in your room, Sir. It’s ok.”

Teenage Je was waiting in the lobby of a very famous “Dukun” in the city for a charm. He hoped that it worked. The news had it that way.

Mmmmppphhhh,….akhirnya setelah menjadi lebih kekeh dari dia, gw tinggalin itu Bapak. Mukanya jadi kayak orang diputusin. LOL LOL LOL.

 

 

Bapak2 kedua

Ada satu peserta yang masuk dengan tidak pe-denya. Dia jalan rada gugup dan ngegulung2 koran di tangannya. Mungkin dia pikir bikin kebab bisa mengurangi rasa gugupnya. Ameeeeeen. Berdirilah dia di deket meja dan akhirnya gw suru duduk.

“O, duduk? OK.”

Ini Bapak spec nya 178an and sekitar 85an, 23 karat deh. Mesti dulunya suka mainan cowok–playboy. Dan meluncurlah pertanyaan demi pertanyaan dari temen gw dulu. Dijawabnya seru, ebak, mesti dulu gizinya tercukupi deh. Dan tibalah giliran gw tanya2 dia. Ada satu pertanyaan yang dia jawab kalo dulu tu dia manager bagian A dan terus dipindah ke bagian B. Bagian A itu stimulating banget kerjaannya–everyone’s dream deh pokoknya. Tapi dia harus dipindah ke divisi yang boring abis–Liberty sampe turun tangan deh pokoknya. Dan gw bikin komen:

“So you were not happy. But the money must be good, right?”

Dan somehow itu Bapak ketawaaaa kenceeeeng–seatbelt max tight deh!!!

Teenage Je was walking passing through a graveyard when he smelt the scent of collitax in the air. That was when he knew he was not alone.

Dan tertawa itu kejadian bolak2. U know wat, setelah di dengerin, ketawanya enak loh. Cuma pas mesin idup aj yang begitu. Hehehehe. tapi gw salut itu sama itu Bapak. Dia ngelamar di tempat gw gara2 itu adalah janjinya ke his late mom. Jadi, dia pernah ditanya ma nyokabnya: Mau jadi apa lo kl uda nggak kerja lagi di kantor lo sekarang? Dia bilang pingin jadi A dan B. Dan beberapa bulan setelah itu, mamanya meninggal. Dan (lagi) 7 hari setelah interview tadi, dia mau commemorate 100 hari nyokabnya. Dia ngelamarnya sekarang karena tiba2 inget janjinya dia ke mamanya. Mmmmppphhhh…

 

Si cewek

Bayangin cewek yang cantik tp syaratnya lo harus spend several seconds dulu buat observe dia. Ada kan tipe2 cewek yang kayak gitu? Tipe yang bukan “beuty on the spot” gitu deh. Ini cewek pernah gw gagalin karena rada gimanaaa gitu. It’s her competence actually. Hopefully dia improved yak. Did she? Jujur gw lupa dulu dia gimana. Hihihihihihihihi. Anw, recruitment process di dept gw tuh ada presentasinya. Dan dia presented her ideas jg dong. begitu berdiri, dia ngebagi papan tulis jadi tiga. Gak pake gergaji, cuma pake marker. LOL. Dan dia tulis lah: Introduction, Body, Conclusion. Gw sih uda tau kemana arah presentasinya. Mesti dia mau nulis semua points2nya in complete sentences deh. Buang2 waktu kan? Jadi gw bilang ke dia:

“You don’t have to do that. Just explain to us the points directly.”

Eeeee itu cewek balik badan and liat gw, telapak tangannya ngelarang gw and dengan muka serius bilang:

“Yes, wait. Be patient. I understand. One first one.” Terus dia balik badan ke papan tulis and nulis kalimat pernuh pertamanya.

Teenage Je was sitting on the corner of his room. His jaw was touching his knees and regretted whatever he had said to his parents.

Temen gw langsung ngeliat gw and cekikikan tanpa suara. Dan gw lebih cekikikan dan lebih tanpa suara. Gw nahan nahaaaaaan itu keatawa biar nggak keluar pintu atas apalagi pintu bawah. Dan gw ngelakuin itu sampe sekitar 3 menitan pas dia kelar nulis banyaaaak banget kalimat di papan tulis yang uda jadi kayak papan pengumuman pesawat boarding atau delay. LOL LOL LOL.

Now,…pelajaran apa yang bisa kita ambil dari ketiga orang itu???

Bapak2 pertama–dont be possessive, especially toward the interviewer who failed you once.

Bapak2 kedua–you’ve gotta keep the promises you made.

Si “beauty-not-on-the-spot”–no comment.

 

-Je-

 

About thef1rstmanonjupiter

I'm a true ARIES--If you know what I mean. If you don't, google it:)

2 responses to “Three interviews–two lessons of life

  1. Bung Iwan

    Aku jadi pengen tau siapa pemenangnya…. :)) hahahahah…. hahahahaha…..
    (enak ngga ya tawaku???)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s