Posted on

Bicara


Santi melempar gelas ke lantai lagi. Dan serpihan-serpihan gelas itu kemana-mana. Ada beberapa yang kecil jatuh ke sofa, bahkan ke lipatannya. Ketika aku mendekat ke sofa untuk membersihkannya, Santi marah-marah membabi buta melarangku.

“Biarin saja semuanya disana! Biar mati orang yang duduk disana! Biar tambah parah masalah kita!” Aku takut sekali kalau Rama yang masih berumur tujuh tahun pulang sekolah dan tiduran disana. Aku tidak akan bisa membiarkan anakku duduk di sofa itu. Aku nekad mendekati sofa itu dan akan memunguti bahaya itu dengan tanganku sendiri. Namun Santi datang mendekatiku dan mendorong kursi rodaku sampai kakiku menabrak tembok.

Untung saja aku masih bisa menahan kepalaku sendiri dari berbenturan dengan pigura sederhana yang tergantung di tembok itu. Pigura itu berisi foto kami bertiga—aku, Santi dan Rama yang masih digendongan mamanya.

Aku memandangi foto itu tanpa perasaan apa-apa. Bahkan aku pun rela membenturkan kepalaku ke foto itu atau foto siapa saja asalkan masalah yang ada di rumah petak ini selesai.

Aku ingat sekali malam itu aku sudah mengatakan semuanya ke Santi.

“Tidak apa-apa kalau kamu mau meninggalkan aku dan Rama. Aku yakin aku bisa bertahan hidup dan menghidupi Rama. Odong-odong masih bisa aku sewakan walaupun sekarang aku sudah tidak bisa menjalankannya sendiri. Kalau kamu pikir masa depan disana lebih baik daripada apa yang ada sekarang.” Belum pun aku selesai berbicara, Santi sudah memotong:

“Masa depanku jelas akan lebih baik! Aku ndak bisa terus-terusan nungguin kamu dan odong-odong kamu itu. Lama-lama aku saja sudah bingung yang mana yang odong-odong dan yang mana kamu!”

Bukan sekali dua kali aku berbicara kepada Santi tentang semua yang aada di pikiranku. Benar-benar sudah berulang kali. Pernah aku mencoba pendekatan yang lebih agamis.

“Inget sama yang di Atas, Santi.”

“Yang di Sana aku ingnet terus, Mas. Kamu itu yang mau aku lupain. Sudah berapa kali ngelus dadaaaa (Dia memperagakannya) aku ini? Kurang apa? Apa aku ndak berhak dapet sedikiiiit saja kesenengan? Sedikit hiburan? Aku pusing mas. Aku gila. Aku edan. Aku nggak kuat!”

Dan biasanya setelah keadaan seperti itu, dia akan merebahkan diri di sofa ruang tamu. Lehernya akan dia istirahatkan di punggung sofa dan kakinya akan dia lebarkan menganga seolah menunggu angin sepoi-sepoi yang akan sedikit menyejukkan masalahnya, bebannya, dan napasnya yang terenggah-enggah meniup beberapa helai rambut yang basah menempel di keningnya yang berkeringat.

Dan aku hanya bisa duduk beberapa meter jauhnya.

Aku tidak berhenti menatap wajahnya yang menderita. Aku mengucapkan beberapa kalimat yang benar-benar aku harap bisa menenangkan dia.

“Cah ayu, ingatkah kamu dulu ketika setiap kali aku jalan di depan rumahmu, aku selalu membeli rokok di warung depan tempat kamu biasa menyapu. Dan aku sengaja memandangmu. Aku tersenyum. Lebarnya senyumku dulu untukmu. Dari dulu pun aku tahu aku akan bisa menaklukan hatimu yang ramah. Untung saja tidak susah buatku. Atau mungkin semuanya gampang untukku karena aku selalu menatapmu di kala itu? Bahkan aku tidak melihat ke tukang rokok itu. Tidak. Tidak sekalipun. Bahkan ketika memilih rokok. Aku cukup menunjuk salah satu merk rokok asal-asalan yang ada di dekatku. Buat apa juga aku memilih. Hehehehe. Aku toh sebenarnya tidak merokok dan bisu dari sejak lahir.

 

–Je–

 

About thef1rstmanonjupiter

I'm a true ARIES--If you know what I mean. If you don't, google it:)

4 responses to “Bicara

  1. Bung Iwan

    tragis yah….

    aku jadi inget punya temen yg tuli sejak SD.
    tapi di tanganku cerita itu malah jadi komedi. huh! 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s