Posted on

Filsafat


Dosen filsafatku memasuki ruangan dengan sangat percaya diri. Dia memakai sepatu hitam mengkilatnya, celana yang berwarna senada, ikat pinggang yang siapapun juga akan segera tahu kalau harganya mahal, kemeja oranye yang membuka mata mahasiswa dan mahasiswi, dasi kuning lembut yang membuka mata mahasiswa dna wajah tampan kharismatik yang membuka mata mahasiswi.

“Selamat sore.”

Ucapan salam keluar dari bibir tipis merah muda yang dipangku dagu kehijau-hijaun karena bekas cukurannya. Warna itu naik ke atas pipinya yang tidak kurus namun tidak gemuk. Hidung yang mancung memisahkan keduanya. Bagian yang satu itu juga memisahkan dua bola mata pintar yang diatapi oleh bulu mata yang panjang. Sayu, cerdas, menarik-tiga kata yang sering aku dengar dari siapapun yang berusaha mendeskripsikan dosenku itu.

Ada ritual berbasa-basi yang pas dan kemudian ada satu pertanyaan pembuka yang akan menjurus tepat ke apa saja yang dia ajarkan di kelasnya.

“Saya mau anda semua berdiri sebentar. Pandang apa saja yang ada di depan anda.”

Dan kenapa ada suara tertawa kecil malu-malu dari para mahasiswi?

“Lalu balik kanan. Pandangilah apa-apa yang bisa anda pandang.”

Dan badan kami berputar-putar ke beberapa arah sebelum akhirnya kami dipersilahkan duduk kembali.

“Sekarang tutup mata anda.” Dia buru-buru menambahkan “Jangan kuatir, nanti kalau anda membuka mata lagi, jumlah siswa disini akan masih sama kok.” Dan tertawalah semua.

Kami menutup mata. Begitu aku juga menutup mata, aku hanya menunggu aba-abanya untuk membuka mataku lagi.

“Selama anda menutup mata, silahkan berusaha untuk mengarahkan kepala ke teman anda.”

Beberapa orang tertawa setelah mereka sadar kalau mereka tidak mempunyai teman untuk ditatap dalam gelap. Akhirnya mereka mengatur diri sendiri dalam ketidak melihatan mereka untuk menemkan seorang atau dua pasangan untuk kegiatan selanjutnya.

“OK. Sekarang, sebutkan ke teman anda, masih dengan mata tertutup ya. Mau cantik, mau ganteng, tutup matanya ya.” Tertawa kecil lagi.

“Saya lanjutkan. Sebutkan ke teman anda hal-hal apa saja yang anda liat ada di ruangan ini.”

Suasana selanjutnya seperti bendahara jama dahulu kala mendata inventaris sebuah ruangan.

AC

Atap

Tangga

dan lain lainnya.

Barang-barang terpanggil namanya oleh semua orang di ruangan itu.

“OK, sekarang buka mata.”

Aku membuka mata dan merasa melihat seorang malaikat di depan yang turun dari surga karena cahaya abadinya masih mengekor di belakang orang itu. Dialah dosen filsafatku.

“Sekarang saya akan bertanya kepada anda apakah anda menyebutkan barang-barang yang akan saya sebutkan ke teman anda tadi. Acungkan tangan jika anda menyebutkannya.”

“Meja?”

Hampir semua mengacungkan tangan.

“Kursi?”

Semua juga begitu.

Dan sekali lagi barang-barang yang ada disana dipanggil hampir satu persatu oleh para mahasiswa.

“Saya akan menyebutkan satu barang terakhir. Anda siap?”

“Yaaaa…” Secara serempak terdengar.

“Switch lampu?”

Tidak ada yang mengacungkan tangan. Dan Pak dosen pun terdiam saja melihat satu persatu mahasiswa yang ada di depannya. 50 jumlahnya. Lama sekali dia melakukan itu.

Dan selama proses menunggu itulah beberapa siswa mulai mengangguk-anggukkan kepala mereka.

Pelan-pelan dan lau sedikit lebih riuh mulai muncul komentar-komentar.

“Saya ingin masing-masing anda untuk menuliskan apa yang anda pelajari baru saja. Tentunya anda bisa melakukan itu di rumah karena mungkin setelah ini anda akan pergi berkaraoke bersama teman-teman anda, atau pacaran mungkin? Selamat sore.”

Sang dosen pergi meninggalkan kelas yang penuh akan mahasiswa yang tingkat filsafatnya segera meningkat…tentunya dengan persepsi mereka masing-masing.

Bagaimana dengan persepsi kamu?

About thef1rstmanonjupiter

I'm a true ARIES--If you know what I mean. If you don't, google it:)

5 responses to “Filsafat

  1. Bung Iwan

    Beberapa waktu lalu aku baca buku. Dan dia bilang bahwa apapun yang kita liat, sebenernya sudah masuk ke dalam bawah sadar. Makanya Dedy Corbuzier bisa naik motor dng mata tertutup.

    Masalahnya, semua itu tersimpan di bawah sadar. Lalu gmn caranya mengangkat pikiran bawah sadar itu ke pikiran sadar?

  2. daff ⋅

    melupakan hal kecil namun penting?

  3. Sona ⋅

    LISTENING is a great thing…it’s so relaxing , full of passion and genuine…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s