Posted on

Cara


“Sorry uda lama nggak nge-respon.”

Dia hanya mengangguk. Kupikir dia hanya mengangguk, tapi rupanya dia menambahkan satu kalimat…atau lebih.

“Jujur lebih seneng seperti ini. Kalau kamu langsung ngejawab, ya…seneng juga, sih. Tapi kan nggak ada seninya. Jadi ya deg-deg-an and ngerasa yang lain-lain deh. Tapi lebih suka begini kok.”

Aku tersenyum sedikit.

“Mmm,..kalau memang lebih suka menunggu, kayaknya kamu memang harus menunggu sedikit lebih lama. Ngakpapa kan?”

Dan raut mukanya berubah. Well,…siapa sih yang suka menunggu jawaban “ya” atau “tidak” dari orang yang dia lamar untuk menjadi pacar? Waktu kan tidak boleh dibuang percuma.

“Maksudnya?”

Aku menarik napas panjang. Itu adalah salah satu prosedur yang telah aku latih dua hari ini.

“Maulana, aku menyukaimu.” Dan aku berhenti. Aku berhenti dan menunggu sejenak reaksinya. Namun aku tidak harus menunggu lama. Dari matanya yang menatapku, semuanya sudah jelas. Kebahagiaan itu berbentuk bundar sempurna.

“Aku hanya ingin benar-benar yakin dengan apa yang aku rasakan.”

Dan bagaimana reaksinya sekarang? Bundar itu masih sempurna. Sinarnya tidak berkurang. Dia masih menginginkan diriku. Tapi untuk seberapa lama?

“Aku sudah beberapa kali terlibta dalam hubungan. Aku sering gagal. Dan jujur, aku tidak mau gagal lagi sekarang ini.”

“Kita akan mencobanya, Nia. Kita akan mencobanya.” Sepertinya dia sedang menjual produk mutakhir yang bisa menyelesaikan masalahku.

“Maulana, terimakasih sudah merasakan hal yang sama. Dan..kamu juga tahu kan aku sudah beberapa kali ini bertemu dengan psikologku?”

Dia mengangguk…datar. Seolah masalah yang aku hadapai ini bukanlah sesuatu yang akan mengacaukan rumah masa depan kami.

“Dia menganjurkanku untuk berterus terang kepadamu tentang diriku sendiri.”

Dia mengangguk lagi. Jalanan di depan sangat sepi dan dia tampaknya ingin berjalan cepat untuk segera sampai kemaksud pembicaraanku.

“Aku memutuskan untuk melakukan itu…jujur sejujur-jujurnya mengenai siapa diriku.”

“Aku setuju.”

“Dan,…ini adalah yang mau aku sampaikan kepadamu.” Aku membayangkan bisa mendengar detak jantungnya di pikiranku. Sangat keras bunyinya. Dan aku mendengarkan setiap suara sambil tanganku meraih sesuatu yang sudah aku taruh di bawah meja sebelum dia datang. Dan lalu aku menatapnya.

“Ini adalah cara yang aku pikir bisa membantu kamu untuk lebih memahamiku. Terimalah buku ini, Maulana.”

MANUAL

 

 

Di tempat duduk ruang tamuku aku tenang. Aku mentap matanya tajam.

“Aku memberikanmu buku itu untuk lebih memahamiku. Buku itu semuanya tentang berbagai hubungan yang pernah aku jalani dan segala masalah-masalahnya. Aku berharap setelah membacanya, kamu akan kembali kepadaku dan bisa memberi kepastian akan iya atau tidaknya kita akan berpacaran.

Beberapa saat setelah itu aku mengantarkan dia ke depan pintu untuk pulang. Dia masuk ke mobilnya, menghidupkannya dan melambaikan tangan ke arahku. Aku melambaikan tangan balasan. Dan dia pergi. Aku cuma berharap dia kembali lagi. Semoga saja dia tidak seperti maulana.

 

About thef1rstmanonjupiter

I'm a true ARIES--If you know what I mean. If you don't, google it:)

7 responses to “Cara

  1. renotxa

    Curhat iki mesti… Hahaha.

  2. daff ⋅

    runut ni. 🙂
    suka ketuker ‘dia’nya ‘dia’ yg mana. hihihi.

    and the last sentence? why ‘maulana’?

  3. daff ⋅

    hihihi. everything is actually about giving it a try and doing the best. 😉

  4. Sona ⋅

    We try and keep on fighting SPIRIT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s