Posted on

Dalang


Aku baru saja pulang dari Jogja. Tepatnya di daerah Bantul. Disana aku meliput tentang pembunuhan dalang lokal terkenal oleh anaknya sendiri. Ceritanya berbau daya magis yang memaksa kita mempertanyakan logika.
Dalang Ki Joko Wadiantoro—66 tahun—adalah seorang dalang terkenal di sebuah desa di Bantul. Dia sering diundang untuk memeriahkan acara-acara lokal yang mulai dari malam sampai pagi. Ada beberapa alasan kenapa dia laris jika dibandingkan dalang-dalang lain di daerahnya. Cerita yang dia angkat adalah kombinasi cerita sejarah dan kehidupan masa kini. Terutama masalah-masalah yang dia angkat. Bahasanya sangat halus dan benar-benar indah namun tetap saja bisa dimengerti. Aku mencoba melihat rekaman saat dia mendalang. Aku tidak begitu paham apa yang dia omongkan. Namun aku bisa mengambil inti ceritanya. Setelah aku pikir-pikir, itu karena dia menyertakan contoh-contoh nyata dalam bahasa verbal yang lebih mudah dimengerti dan bahasa tubuh wayang yang sangat ekspresif. Mungkin juga itu alasannya kenapa dia suka mendisain sendiri wayang-wayangnya. Tangan wayangnya lebih panjang daripada wayang biasa dan dilengkapi dengan jari sehingga adegan-adegan seperti menggaruk kepala saat dia bingung bisa membantu bahasa Jawa yang sangat halus untuk mendeskripsikannya.
Ki Joko Wadiantoro mendapat hormat dari warga desa sekitar. Semuanya itu berlangsung sampai suatu hal terjadi. Ki Joko mendapat order untuk manggung di sebuah perhelatan besar sukuran orang terkaya di desanya. Namanya Pak Samirin. Dia daru saja terpilih menjadi anggota dewan perwakilan dari Daerah Istimewa Jogjakarta. Dia mengadakan pesta besar-besaran yang acara puncaknya adalah pertunjukan wayang oleh Ki Joko. Dia berpesan kepada Ki Joko agar tema cerita yang dibawakannya mengandung unsur kepatuhan rakyat jelata terhadap pemimpinnya. Ki Joko mengiyakan pesanan itu dan segera menutup diri—seperti biasa yang dia lakukan ketika akan mengarang cerita—di rumah kecil di belakang rumahnya yang dia jadikan ruang kerja.
Aku sempat bertandang ke penjara dimana anaknya Ki Joko ditahan karena aku dekat dengan seorang polisi yang mempunyai koneksi disana. Aku sempat mewawancarainya dan bertanya-tanya tentang apa yang terjadi beberapa hari sebelum hari manggungnya waktu itu.
“Bapak mengurung diri seperti biasa. Kata Bapak waktu itu dia ingin kebelakang namun pintu ruangan itu terkunci. Hal itu belum pernah terjadi sebelumnya. Setelah itu Bapak mencoba menggedor-ngedor pintu dan berteriak minta tolong dibukakan kuncinya. Tetapi anehnya tidak ada yang mendengar jeritan Bapak walaupun saat itu menurut orang-orang ada beberapa anak bermain tidak jauh dari dimana Bapak berada.”
“Mmm…” Tanggapanku sambil terus menatap mata anak dalang itu yang bernama Wisnu.
“Biasanya Ibu datang membawakan sepiring makanan jam tujuh malam, namun baru jam enam, ibu melihat awan hitam melingkar tepat di atas atap rumah. Ibu memutuskan mendekati tempat itu dan bertanya apakah Bapak baik-baik saja di dalam. Namun Ibu mendengar suara keras dan berat sekali berkata “Lungono kowe seko kene! (Pergilah kamu dari sini—jawa, kasar).”
Ibu ketakutan dan kembali ke rumah serta meminta bantuan tetangga sekitar rumah untuk mendobrak masuk. Bapak berhasil diselamatkan walaupun dalam keadaan pingsan. Mereka membawanya ke dalam rumah untuk beristirahat.
Keesokan paginya Bapak merasa segar namun tidak ingat sama sekali apa yang terjadi semalam. Bapak kembali masuk ke ruang kerjanya berjam-jam dan keluar sore hari untuk bersiap-siap mendalang di rumah Pak Samirin.
“Waktu pertunjukan pun tiba. Bapak berkata bahwa dia tidak memerlukan musik Jawa untuk pertunjukan kali ini. Semuanya menurut saja karena mereka menganggap ini adalah salah satu inovasi Bapak—seperti badan wayang yang dilengkapi dengan lima jari itu.”
Selanjutnya Wisnu menceritakan detail show Bapaknya yang aku sempat lihat di rekaman.
“Sjatining, ndunya niku napa? Namung tiyang ingkang mboten mangertos kedah napa. Playon, madhosi terang. Wonten satitik terang. Namun terang kuwi A-S-UUUUUUUUU!!!!!
“Apalah dunia ini? Hanya beberapa manusia yang tidak tahu harus bagaimana. Kita berlari kesana kemari mencari petunjuk. Dan ada satu cahaya. Tetapi cahaya itu A-N-J-I-N-G!!!!”
Dan bisa kulihat reaksi para penonton yang berbeda. Banyak yang dari mereka berbisik-bisik keras tentang apa yang baru saja mereka alami.
“A-S-U sing mlayu rono rene ngangkang lan nguyuh neng endi ae ben asu liane podo ngerti sing ambu uyuh kuwi daerahe!!!”
“A-N-J-I-N-G yang lari kesana kemari, mengangkangkan kaki dan kencing dimana saja supaya anjing-anjing lain tahu itu adalah daerahnya.”
Sema penonton di rekaman itu terdiam. Tampak seorang ibu yang menutupi telinga anaknya. Ada juga yang menoleh kesana kemari lalu setengah menarik lengan anaknya pergi dari tempat itu. Beberapa umpatan masih keluar dari Ki Joko. Namun umpatan itu mulai tidak didengar orang-orang disana. Mereka mulai sibuk bepergian dari tempat duduknya. Pak Samirin mulai panik dan berjalan medekati belakang layar untuk berbicara dengan Ki Joko. Namun ketika dia terlihat mendekati Ki Joko, dia berhenti dan tampak sekali wajahnya yang ketakutan dan kemudian lari dan berteriak. Hal ini membuat para pengunjung ada yang melakukan hal yang sama. Kepanikan pun mulai berantai dan beberapa saat setelah itu ada yang berlari ke arah kamera dan membuatnya jatuh dan mati.
“Matanya merah. Kulit wajahnya menjadi tampak lebih hitam. Dia sudah dirasuki.” Begitu pengakuan yang aku dengar dari salah satu polisi yang dikenalkan Wawan—informanku dari Jakarta—lewat sms.”
Dalang itu sempat dipasung selama empat hari sampai di suatu malam Wisnu mengaku masuk ke rumah kecil yang menjadi tempat kerja Ki Joko itu. Wisnu mengaku mendengar Ki Joko yang waktu itu sadar bahwa dirinya sudah dirasuki. Ki Joko menatap mata Wisnu dan berkata ada hawa positip masuk ke dirinya. Dia mengaku sempat berdialog dengan hawa itu. Hawa itu memperkenalkan dirinya sebagai jelmaan Semar—seorang tokoh bijaksana di dunia pewayangan. Si Semar berkata pada dirinya bahwa Ki Joko telah terpilih untuk membawa perubahan di dunia. Si Semar pun meminta ijin untuk menggunakan raga Ki Joko. Ijinnya dikabulkan. Namun setelah masuk, terjadilah hal yang berbeda. Ki Joko mengatakan bahwa maksud baik si Semar disampaikan dengan cara yang berbeda.
Wisnu sendiri mengatakan kepadaku kalau dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Ki Joko. Jujur, dia mengaku kkepadaku kalau dia menganggap ayahnya sudah hilang akal dan benar-benar mempermalukan keluarganya. Wisnu mengatakan hal itu ke Ki Joko yang kemudian menjadi marah. Dia meneriakkan kata-kata kotor ke Wisnu. Tidak tahu setan apa yang tiba-tiba datang. Ki Joko terambil nyawanya oleh Wisnu dengan salah satu kerisnya yang dipajang di rumah itu. Wisnu tetap percaya bahwa ayahnya sudah menjadi gila dan membunuhnya adalah sesuatu hal yang menurutnya harus dilakukan. Ironisnya adalah ketika dia mematikan lampu rumah itu, semua wayang yang dipajang di sekeliling tembok rumah, bersinar merah di bagian matanya.
–Je–

About thef1rstmanonjupiter

I'm a true ARIES--If you know what I mean. If you don't, google it:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s