Posted on

The Day


     Romeo terbangun dari tidurnya. Kesadarannya sedang kemana-mana. Semuanya belum datang di satu tempat khusus yang biasa dijadikan tempat berkumpul mereka. Ketika semuanya sudah ada di tempat dan dia bias melihat wekernya, Romeo mulai bertanya-tanya sesuatu hal yang aneh. Kenapa weker di meja kecil di sebelahnya tidak berbunyi? Apakah dia bangun terlalu pagi? Dia memutuskan untuk mengeceknya. Diangkatnya kepalanya ke arah meja kecil di seberang. Pandangannya terhalang oleh tubuh seorang wanita yang dia nikahi tiga tahun lalu—Nana. Jam di samping meja Nana menunjukkan pukul lima tepat. Alarm di wekernya juga selalu di setel jam lima. Tapi kenapa tidak berbunyi? Apakah dia lupa menghidupkannya? Romeo kembali ke jamnya dan melihat panel alarm di belakang jam dalam posisi “on”. Tepat jam lima tapi tidak ada suara apa-apa. Romeo memperhatikan jarum jam itu. Ternyata tidak begerak.
“Nice!” Gerutunya.
“Mati pas wekernya harus bunyi. Untung kebangun.” Pikirnya.
Dia bangun dari kasur setelah mengecup kening istrinya terlebih dahulu. Badannya yang atletis itu menuju ke kamar mandi. Begitu masuk, Romeo membuka pintu lemari obat-obatan dan mengambil satu pak rokok dan korek gas di dalamnya. Lalu ditutupnya kembali pintu lemari itu dan bias dilihatnya bayangannya di cermin.
“Satu keriput lagi? Satu rambut putih lagi?” Pikirnya. Lalu akan dinyalakannya rokok sambil memperhatikan dirinya sendiri di cermin. Romeo suka dengan gayanya menyalakan rokok. Tangan kanan menggenggam korek gas dan tangan kirinya terbuka sedikit sekali menutupi rokok dari angin yang sebenarnya juga tidak ada di kamar mandi itu.
Tetapi ada yang salah. Koreknya mati. Romeo mencobanya berkali-kali namun gagal.
“Watthe..” Umpatnya. Romeo membanting koreknya. Lalu dia keluar kamar mandi menuju dapur masih dengan satu batang rokok menempel di antara bibirnya. Dia menuju ke dapur dan mengambil korek biasa. Dicobanya korek dan ternyata hidup. Lalu dia kembali ke kamar mandi untuk memenuhi panggilan pagi.
Ketika semuanya selesai, dia mandi dan setelah itu keluar kamar mandi. Nana sudah tidak ada disana. Romeo keluar kamar dan segera mencium aroma kopi yang harum.
“Morning, hero.” Sapa Nana yang kemudian dihadiahi Romeo kecupan di keningnya.
“Morning. Thanks for the coffee.”
“Anything for you.” Nana tersenyum lalu menambahkan “Gw mandi dulu, ya.”
“Jangan ditutup pintunya. “Komentar itu disertai senyuman nakal Romeo. Nana meninggalkannya dengan ekspresi yang lebih nakal.
Romeo membuka Koran di meja makannya. Ada yang aneh. Halaman kedua kosong. Dia terheran-heran dengan apa yang dilihatnya. Dibolak-baliknya Koran itu tetapi tetap kosong di halaman keduanya.
“Whatever.” Umpat Romeo dalam hati. Matanya menulusuri halaman perhalaman untuk menemukan berita yang menarik. Setelah itu ditaruhnya koran itu dan perhatiannya beralih ke harumnya kopi.
Nana keluar kamar setelah beberapa saat dengan hanya menggunakan handuk.
“Sexyyy.” Goda Romeo.
“Sexy bangetkah sampe bias bikin lo cuti hari ini?” Balas Nana.
“I wish. Meeting…tiga dalam sehari.”
“Mmm…I just looooove executive.” Nana mengucapkannya dengan sangat menggoda.
“Mmm…” Beberapa adegan mesra kecil terjadi sebentar. Setelah itu Romeo sudah ada di samping mobilnya yang ternyata susah dibuka.
“What now?” Katanya lebih kepada diri sendiri. Romeo memaksa-maksa pegangan pintu dan akhirnya sempat hampir terjatuh ke belakang ketika akhirnya terbuka. Setelah duduk, dikeluarkannya dua hape dari dalam kantongnya. Tepat setelah menyentuh dasbor, salah satu hapenya menunjukkan tanda low battery dan kemudian mati.
“Perfect!” Umpat Romeo lebih kencang.
Mobilnya dikendarai dengan kecepatan yang lebih seperti supir bis yang mengantar turis melihat-lihat kanan kiri jalan daripada seperti orang yang mau berangkat kerja. Semuanya berkat kebiasaan Romeo berangkat pagi walaupun kantornya lumayan dekat dari rumah. Romeo hanya harus melewati lima lampu merah .
Namun kekacauan terjadi pagi itu. Di lampu merah keempat, ada tiga warna yang muncul tak beraturan. Setelah hijau langsung merah dan beberapa saat setelah itu berubah menjadi hijau lagi lalu kuning. Keadaan itu membingungkan para pengendara mobil yang jadi maju mundur di tempat.
“What is this?” Romeo mengumpat sekali lagi. “What day is it today?” Romeo mengecek tanggal di jam tangannya.
“Shit!” Romeo kesal sekali ketika tahu tanggak yang tertera adalah 25 September…kemarin.

Nana yang biasa hanya memakai handuk setelah mandi sedang berada di meja makan menghadapi secangkir kopi. Dia memandangi permukaan kopi yang merefleksikan bayangannya. Dia sedang melamun. Kemudian dai bertanya kepada dirinya sendiri dalam hati.
“Why do I still make coffee for Romeo?” Nana bangun dan berjalan lunglai ke kamarnya. Dia meninggalkan secangkir kopi dan koran yang tertanggal 28 September 2009. Yang terbuka adalah halaman sembilan—berita kematian.

How’s your day today?
-Je-

About thef1rstmanonjupiter

I'm a true ARIES--If you know what I mean. If you don't, google it:)

2 responses to “The Day

  1. Daffodil

    Maap maap sebelumnya, pertanyaan awam bangets….Ni ada bagian yg dibuang?

  2. Je

    hihihihig ada yang dibuang. bagian itu diserahkan secara resmi dan total ke pembaca 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s