Posted on

Lima Putri


Di dalam pekerjaanku, semuanya mungkin. Aku sudah pernah menulis tentang kejahatan yang dilakukan anak-anak kecil, orang-orang aneh dan bahkan kejahatan kepada diri sendiri. Aku berpikir bahwa suatu hari semuanya ini akan berhenti. Aku salah. Aku merasa seperti itu ketika aku bangun pagi hari ini.
Wawan—polisi buncit bayaranku—menyuruhku datang ke kantor pusat kepolisian pagi ini. Aku menurut. Ketika aku tiba disana, aku melihat perut-perut buncit yang seperti wawan bertebaran. Bagaimana mereka akan mengejar para penjahat? Itu bukan urusanku. Urusanku adalah menanyai Wawan apa yang dia punyai untukku.
Wawan yang melihatku segera berlari—kalau itu bisa disebut berlari—ke arahku.
“Gua punya sesuatu buat lo. Duduk deh.” Wawan mempersilahkan aku duduk di kursinya. Dai membuka satu file dan mengambil satu foto dan menyerahkannya ke arahku. Aku melihat sebuah foto yang diambil dengan digital camera karena ada stamp tanggalnya. Ada lima gadis kecil cantik sedang duduk di sebuah sofa lusuh. Foto itu diambil di sebuah ruangan yang sangat besar. Ubinnya dari tegel yang kuno. Aku sempat berpikir bahwa itu adalah foto dari jaman kapan yang aku tidak tahu. Tetapi kemudian aku melihat tanggal di foto itu 27 Mei 2009. Aku berkesimpulan foto itu diambil di sebuah ruangan yang tidak terawat.
“Apa yang lo liat?”
Aku mengalihkan pandangan ke Wawan. Malas sekali rasanya dengan kelakuan Wawan yang sering menganggap dirinya adalah seorang yang penting untuk perjalanan karirku. Dia pikir dia bisa memperlakukan aku sebagai anak kecil yang dia tanya-tanyai seperti di sekolah?
“Apa yang bisa lo ceritain?”
Wawan tertawa serak. Aku sama sekali tidak menyukai tawa itu.
“Liatin deh cewek-ceweknya.”
“Anak-anak kecilnya,maksud lo?”’
“Hahaha. Ntar kalo gede juga jadi cewek-cewek. Hahaha.”
Aku terdiam tanpa ekpresei memandangi Wawan. Aku sudah belajar bahwa komentar kecilku akan satu hal saja bisa mengalihka perhatiannya dan dia akan mulai bercerita banyak hal yang tidak perlu aku dengar. Makanya aku memilih diam. Dan dia tahu itu.
“OK. Itu anak-anak nggak bakal gede di luar deh. Paling juga gede di penjara.”
Wawan berhenti. Dia tampak mengharapkan aku bertanya “Memangnya kenapa?”, tetapi aku tidak mengabulkan permintaannya. Dia akhirnya meneruskan:
“Anak kembar itu lagi ada di panti asuhan di Bogor. Nih ada foto lagi.”
Dia menyodorkan foto satu gedung yang benar-benar tampak tidak terawat. Lebih tepatnya sebuah rumah. Rumah itu bercat putih…dulunya. Yang aku lihat sekarang, cat putihnya sudah pergi sebagian entah kemana. Ada pohon besar di depan gedung itu. Aku tidak tahu nama pohon itu. Dan aku pun tidak tertarik. Yang membuatku tertarik adalah papan nama yang ditutupinya.
PANTI ASUHAN TUNAS HARAPAN
CISARUA—BOGOR
Setelah puas memandangi foto itu, aku memandangi Wawan. Aku sama sekali tidak berniat memberinya kepuasan dengan memintanya melanjutkan ceritanya. Aku merasa pandangan mataku saja sudah cukup. Dan aku benar.
“Jadi gini ceritanya… temen gua di Bogor kemaren-kemaren telepon gua cerita tentang lima anak ini. Mereka tangkep anak-anak nggak jelas ini karena lima pembunuhan dengan cara yang sama.” Wawan berhenti. Mungkin dia mencoba menimbulkan efek dramatis dari kalimatnya. Tidak berhasil buatku. Kata-kata “Pembunuhan” sudah terlalu biasa buatku.
“Nggak penasaran gimana caranya?”
Aku hanya merekatkan kancing jaketku di bagian leher dan memandang ke arah jammeja di depan Wawan.
“OK, gini. Lima anak ini dititipin ke panti asuhan sama Rumah Sakit. Kata pihak Rumah Sakit, ada satu cewek yang ngelahirin lima anak kembar tapi nggak ada yang nungguin sama sekali. Nggak suaminya nggak juga keuarganya. Anak-anak muda jaman sekarang! Bentar, gw minum dulu. Kopi?””
Aku menarik napas panjang dan berkata “Nggak. Cerita lo aja.”
“OK, bentar.”
Sialan! Wawan meninggalkanku untuk menuju ke pantry kantor polisi itu. Kesabaranku benar-benar menipis saat ini. Aku benci menunggu. Aku memutuskan melihat lagi foto itu. Kelima gadis cilik itu benar-benar mirip. Untuk Roy Suryo, pastilah foto itu rekayasa fotografi satu gadis kecil yang di copy paste menjadi lima. Bukan wajah saja yang mirip. Rambut mereka juga sama panjang. Yang paling mengejutkanku adalah gaya mereka juga benar-benar sama. Mereka duduk di sofa dengan jarak masing-masing yang sama. Semua kaki kanan mereka disilangkan ke kaki kiri. Jatuhnya pun sama. Aku memperhatikan juga baju mereka. Semuanya tidak ada bedanya sekilas. Mereka memakai gaun putih berenda-renda. Dari ukuran baju yang kebesaran, aku berkesimpulan itu bukan baju mereka. Mungkin baju itu dari anak-anak sebelumnya yang sudah diadopsi. Aku mendekatkan mataku ke foto itu dan mulai memperhatikan anak yang paling kanan dari mataku. Aku melihat ada sobekan kecil di roknya. Kemudian aku mengecek anak yang kedua. Sobekan itu juga ada di roknya. Begitu juga di anak ketiga dan seterusnya. Punggung telapan kanan masing-masing anak menutupi tangan kiri mereka. Jari kelingking mereka naik semuanya. Tidak ada senyum di wajah mereka. Apa hak tersenyum untuk anak-anak asuh sudah diambil jauh-jauh sama seperti orang tua mereka?
Wawan kembali dengan cangkir kopinya.
“Tambah ini buar jadi lebih enak.” Dia menyobek taburan choco granulo ke kopi instannya.
Buang-buang waktu saja untukku.
“Foto ini diambil waktu mereka mau diadopsi?”
Wawan berhenti mengaduk kopinya dan menatapku.
“Dari mana lo bisa tau?”
“Berapa yang diadopsi?”
Wawa menatapku keheranan.
“Edan ya otak lo! Mending nulis aja deh. Serem mesti ceriatanya. Bikin aja NYATA sequelnya.”
Aku memberi pandangan Wawan untuk berhenti berkomentar tentang novelku.
“Maaf. Ehm,… Awalnya Cuma satu. Seminggu kemudian yang lainnya juga didopsi. Orang tuanya dari daerah yang berbeda-beda. Dua dari Bogor, satu dari Jakarta, satu dari Bandung dan satunya lagi dari Surabaya. Yang ngadopsi mereka mati semua setelah seminggu. Anak-anak itu dibalikin ke panti asuhan sebulan setelah peristiwa itu. Polisi menyelidiki kematiannya. Semuanya mati dengan cara yang sama—ditusuk pisau dapur. Polisi berkesimpulan…”
Sambil menunggu busway, aku berpikir tentang kelima anak itu. Semoga mereka masih ada yang mau mengadopsi. Dan semoga juga yang mengadopsi mereka adalah satu pasangan yang sama. Dan semoga saja mereka tidak berpisah satu sama lain.
Pikiranku terhenti ketika busway datang dan aku pun masuk.

-Je-

About thef1rstmanonjupiter

I'm a true ARIES--If you know what I mean. If you don't, google it:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s