Posted on

Nyata


“Aku sangat terkesan dengan gaya menulisnya, Mas Alex. Gimana ya ngomongnya? Nyata aja kayaknya. Sama kayak judulnya, deh. Terutama soal anak kedua, sapa tu namanya? Ehm,..”
“Ronald.”
“Ya, Ronald yang memaksa temannya untuk memasukkan jari tengahnya ke dalam knalpot motor yang sedang hidup. Pelajaran buat remaja-remaja yang brandal untuk lebih memperhatikan sopan santun!!!”
“Makasi. Untuk siapa ni tanda tangannya?”
“Amelia.”
“Ok.”
Aku menandatangani novelku yang dibeli oleh Amelia. Gadis cerewet dua puluh tahunan yang tampak berbinar-binar dengan kebencian akan,…entah apa. Aku sempat bingung. Buat apa gadis dua puluh tahunan seperti dia membaca novel misteri dewasa yang aku tulis? Masa bodo. Yang penting dia membelinya.
“Saya benar-benar tertarik dengan gaya bahasa anda. Lugas. Tegas. Straight to the point. Membunuh dengan seni.”
Kalimat itu membuatku merinding sendiri.
“Makasi. Untuk siapa ni tanda tangannya?”
“Jati Marabuana.”
Nama yang…berat.
“Ok, tetap baca buku saya, ya.”
“Tentu saja, bung!”
Bung? Begitu terkesan ’80-an. Penggemarku memang aneh-aneh. Kadang aku berpikir kalau mereka mempraktekan apa yang aku tulis. Membunuh dengan seni? Itu bisa jadi tag-line untuk menggambarkan cerita-cerita yang aku tulis.
“Lumayan juga.” Pikirku.
“Bagian favorit saya adalah ketika Asan mengelus-elus rambut Maria dan kemudian menariknya sampai banyak sekali rambutnya lepas dari kepala. Anak kecil yang hebat sekali!!!” Mata Jati berkobar-kobar marah.
“Belum lagi waktu si Asan memandikan Amanda dan kemudian mencekik lehernya dengan handuk. Cooooool!”
Setelah seratus dua puluh tiga penggemar aneh seperti Jati, aku memutuskan hari itu sudah saja. Capek sekali menandatangani buku sebanyak itu walaupun itu artinya uang buatku.
Ketika aku akan keluar toko buku, ada satu ibu-ibu yang berlari tergopoh-gopoh ke arahku. Umurnya sekitar 55. Penampilannya lusuh dengan baju yang tampaknya tidak pernah tersentuh air dan sinar matahari. Begitu dekat denganku, bau dari baju itu menyengat sampai ke bagian dalam hidungku.
“Alex?”
Aku mengangguk.
“Tolong tanda tangani buku ini. Maaf saya terlambat. Tadi macet sekali di daerah Matraman. Tolong. Masih bisa, kan?”
Aku terkejut. Aku tidak pernah menyangka ibu-ibu itu penggemarku juga. Pastilah dia tidak mempunyai cucu atau kucing seperti yang digambarkan di film-film soal nenek-nenek tua.
Aku menandatangani buku itu.
“Adegan bunuh diri dengan menggedor-gedorkan kepala ke pintu sangat membuat saya tertarik, nak Alex. Boleh saya panggil, nak?”
“Tentu, Bu. Tentu. Ibu siapa nih?”
“Ibu Marni.”
“Ok, ni, bu. Saya tidak pernah menyangka ibu juga penggemar buku saya.”
“Tentu saja saya penggemar buku anda. Bagian lain yang paling saya suka adalah saat anak-anak kecil yang gila itu melempar kucing di kandang anjing hanya untuk menontonnya. Bagus sekali. Brilliant!!! Salah sendiri punya kucing tapi dibiarkan mengencingi dan berak ke kebun tetangga sebelah!”
Aku meninggalkan ibu itu dengan perasaan ngeri menjalar di semua bagian tubuhku. Aku teringat apa yang aku tulis yang mereka baca. Aku menulis tentang sebuah keluarga yang broken home dan mempunyai lima anak laki-laki yang hanya terpaut satu tahun. Yang tertua berumur 12. Mereka mempunyai kelainan jiwa karena keadaan keluarga mereka.
Di mata ibunya dan tetangga-tetangga mereka, lima anak itu perlu dikasihani. Terutama karena mereka tampak manis. Tapi tidak halnya terhadap teman-teman mereka. Mereka bertingkah sangat sadis tanpa tujuan tertentu. Sampai suatu saat ada satu anak yang berani melapor ke orang tuanya. Kelima anak tadi tahu riwayat mereka sudah habis. Bukannya memohon ampun, mereka justru merencanakan kejadian penutup hidup mereka yang sangat tragis. Masing-masing anak melakukan bunuh diri di halaman belakang rumah anak yang mengadu tadi. Tetapi mereka membuatnyaseolah-olah orang tua sang anaklah yang membunuh mereka.
Rencana itu berhasil. Polisi mengusut kematian kelima anak itu dengan bukti-bukti yang sudah mereka siapkan sebelumnya mengarah ke orang tua si anak pengadu. Hasilnya, si orang tua ditangkap dan dimasukkan penjara untuk menunggu hukuman matinya.
Aku naik busway pulang ke rumah. Aku sengaja tidak naik mobil kemana-mana. Buatku, dengan naik busway, aku bisa memperhatikan tingkah laku banyak orang dan mendapat inspirasi dari mereka.
Begitu sampai di rumah, aku merebahkan diri untuk beristirahat. Ketika aku terbangun, hari sudah malam. Pastinyalah aku capek sekali. Baru saja aku mendengarkan berita ada ketukan di pintu rumahku. Aku bangun dan membuka pintu dan ketika lima laki-laki di depanku mulai berkata sesuatu, aku bertanya kepada diriku sendiri setan apa yang merasukiku menulis novel “Nyata”?
“Tuan Alex Wijaya?”
“Ya.”
“Anda diminta ke ke kantor kepolisian untuk memberikan keterangan mengenai tiga kejadian kriminal yang berdasarkan novel anda.”

Je

About thef1rstmanonjupiter

I'm a true ARIES--If you know what I mean. If you don't, google it:)

One response to “Nyata

  1. Pingback: Ironis « firstmanonjupiter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s