Posted on

The first man on Jupiter


Banyak yang bertanya-tanya kepada rumput yang bergoyang duyu “Kenapa sih suka heboh sendiri bawa-bawa nama “THE FIRST MAN ON JUPITER”?
Pertama kali kalimat itu muncul, saya sedang dalam sebuah hubungan dengan seseorang yang hebat sekali. Saya merasa dan sudah melakukan hal-hal yang buat saya saat itu tidak mungkin saya lakukan. Saya mengasosiasikan (susah banget ya nulis kata yang terakhir itu?) hal yang tidak mungkin tersebut dengan menjadi manusia pertama di planet Jupiter.
Saya berpikir penjelasan saya tersebut sudah cukup dan memuaskan rasa keingintahuan orang-orang yang bertanya kepada saya. Ternyataaaaaaaaaaaaaaaaaaa ada pertanyaan lagi.
“Kenapa harus Jupiter? Kenapa tidak planet yang lain?”
Saya mengambil napas panjang dan tidak lupa untuk mengeluarkannya (kalo saya sampai lupa, tidak mungkin kan saya nulis postingan blog ini sekarang? Serem ah…).
Saya hanya menjawab kalau saya itu kan orang yang “berlebihan”. Dan planet yang terbesar adalah Jupiter kan? Makanya saya pilih planet itu. Saya ingat sekali sewaktu saya masih remaja tanpa jambang dan kumis tipis yang bikin geli, saya sering sekali menulis “THE FIRST MAN ON JUPITER” dimana-mana, misalnya di halaman pertama buku tulis saya, di foto-foto saya dan di diary yang dulu pernah saya punyai (Saat-saat itu adalah saat-saat pencarian jati diri. Waktu itu saya belum tahu kalau sebenarnya saya adalah seorang Superhero dengan kekuatan ngibul setinggi langit). Satu hal yang saya sangat banggakan adalah ketika saya lagi bokek tapi nekad pesen stiker dengan tulisan tersebut di atas. Warnanya putih menghiasi motor Smash saya yang saya blok warna biru. Waktu itu saya masih tinggal di Solo. Karena Solo adalah kota kecil, akhirnya saya mendadak terkenal. Motor saya lebih terkenal daripada saya. Sering sekali teman-teman saya mengenali saya dari jauh di jalan raya hanya karena mereka melihat motor Smash biru yang berstikerkan kalimat tersebut.
Itu adalah hal yang sangat positif untuk artis yang baru naik daun seperti saya. Tetapi ada tidak enaknya. Waktu itu, sebagai manusia biasa yang penuh dengan kekurangan, saya pernah bermain ke tempat-tempat yang tidak mau disebutkan namanya. Pas saya disana sih asyik-asyik saja. Namun keesokan harinya, ada teman berandal saya yang selalu menganggap saya alim mendekati saya dan berbisik menggeli-geli telinga saya. Dia bertanya “Semalem THEFIRSTMANONJUPITER kemana, Je?”
Saya kaget dan melihat kearahnya. Berhubung dia begitu dekat, wajahnya yang dari sononya sudah lebar, serasa di zoom in. Tambah lebar pokoknya. Saya sampai bisa melihat pori-pori kulitnya yang menganga. Sayangnya saya tidak sempat menghitung jumlah komedonya. Menyesal sekali saya waktu itu.
Oia, mari kita fokuskan diri kita (maksudnya saya) ke jawaban saya tentang pertanyaan teman saya itu. Waktu itu jawaban saya adalah jawaban abstrak dalam bentuk senyum manis sekaligus pipi merah maroon 5. Saya melanjutkan dengan pertanyaan diplomatis dan erotis: “Mata lo merah, Ji. Kena shampo? Merkanya apa? BINTANG? :)”
Kami berdua tertawa. Saya menutup pembicaraan saya dengan sebuah kalimat bombastis dan meledak-ledak di pikirannya: “You are not the only one with the dark side.”
Lalu saya berjalan meninggalkan dia dengan bayangan citra diri saya yang rusak.
Dia sempat berteriak tanda tak dalam: “Welcome to the club!”
Sang manusia pertama di Jupiter hanya tersenyum 🙂

About thef1rstmanonjupiter

I'm a true ARIES--If you know what I mean. If you don't, google it:)

One response to “The first man on Jupiter

  1. Mariskova

    You could be the first man on any planet. But, please, take off this blog’s heading picture! It’s so… I thought it was an Octopus… honestly!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s